
Mengajarkan Toilet Training Pada Anak dengan Gangguan Dengar
Sudahkan anak Anda belajar toilet training? Kapan waktu yang tepat untuk memulainya? Apakah ada perbedaan mengajarkan toilet training pada anak dengan gangguan dengar dengan anak yang normal pendengarannya?
Bagi orang tua yang memiliki anak balita, toilet training atau latihan buang air kecil dan besar di toilet, akan menjadi sebuah pekerjaan rumah yang cukup menyita perhatian. Terlebih lagi, jika anak tersebut juga memiliki masalah gangguan dengar, maka tugas untuk mengajarkan toilet training pada anak tersebut akan lebih membutuhkan kerja keras.
Bagaimana agar anak dengan gangguan dengar bisa menjalani toilet training dengan lancar akan menjadi satu pertanyaan bagi orang tua mereka. Nah, berikut tips sederhana yang diambil dari website auditoryverbaltherapy :
1. Perhatikan Kesiapan Anak
Seringkali orang tua memasang target tertentu, kapan anak harus lulus toilet training, kapan harus memulai dan sebagainya. Banyak orang tua yang menganggap bahwa siap atau tidak siap semua sudah harus dimulai. Memang tidak ada yang salah dengan hal tersebut, namun jika terlalu dipaksakan, baik orang tua atau pun anak bisa stress menjalaninya.
Baik untuk anak dengan pendengaran normal atau dengan gangguan dengar, kesiapan pada diri sang anak sangat dibutuhkan. Ibu bisa melihat kesiapan tersebut dengan mengamati keseharian anak. Apakah anak sering merasa tidak nyaman dengan diapersnya, tidak nyaman ketika merasakan basah di celana, atau sering meminta untuk pergi ke toilet, walaupun terlambat karena sudah terlebih dahulu buang air kecil sebelum sampai di toilet. Dengan mengamati tanda-tanda ini, maka ibu akan mengetahui kapan waktu yang tepat untuk memulai.
2. Bahasa yang Digunakan saat Mengajarkan Toilet Training
Tentu bukan masalah bagi anak yang tidak terkendala dengan pendengaran dan komunikasi saat mengajarkan toilet training pada mereka. Tapi, bagi anak dengan masalah pendengaran dan komunikasi, bagaimana bahasa yang akan disampaikan akan menjadi kendala utama bagi sebagaian orang tua yang belum memahaminya.
Untuk hal ini, penulis artikel Elizabeth Rosenzweig, MS, CCC-SLP SLS Cert. AVT menyampaikan bahwa, terlebih dahulu pisahkan anak dalam dua kelompok. Yang pertama adalah anak yang hanya memiliki masalah gangguan dengar dan speech delay, dan kelompok yang lain adalah yang memiliki masalah pendengaran berikut dengan keterlambatan lain atau global delay development.
Untuk anak yang memiliki keterlambatan bicara atau masalah dengar, Anda bisa mengajarkannya dengan teknik gambar. Anda bisa menyiapkan urutan gambar toilet training, mulai dari membuka celana sampai menggunakan celana kembali. Jika anak Anda sudah menggunakan alat bantu dengar, atau bisa membaca gerakan bibir, Anda bisa langsung mengajaknya. Misalnya dengan mengatakan, “mau pipis, yuk, mama antar ke toilet”. Tentu saja, hal tersebut Anda sampaikan ketika melihat bahwa ada tanda-tanda anak akan pipis, atau sudah beberapa jam anak tidak pipis.
Bagi anak dengan global delay development, kesiapan anak menjadi yang utama. Sangat bijaksana jika Anda berkonsultasi dengan terapis fisik anak untuk mengetahui apakah anak sudah siap diajarkan toilet training atau harus mengejar beberapa ketertinggalannya yang lain terlebih dahulu. Hal ini guna mencegah anak memiliki terlalu banyak PR, sehingga justru membuat ia stress.
3. Komunikasi Secara Rutin
Anak-anak adalah sosok yang sangat mudah dimasuki oleh hal-hal yang baru, namun jika tidak diingatkan terus menerus, kemungkinan untuk lupa pun akan besar. Karenanya, orang tua perlu melakukan komunikasi rutin tentang toilet training pada anak. Orang tua yang konsisten menyebutkan kata-kata tentang toilet training, akan membuat anak-anak mereka mengingat hal tersebut lebih sering.
Terlebih jika orang tua secara konsisten mendampingi mereka sampai mereka bisa. Untuk anak dengan gangguan dengar, komunikasi yang konsisten ini sangat dibutuhkan, biarkan anak terus memahami makna kata-kata toilet training, baik dari membaca gerak bibir Anda setiap kali anda menyebutnya, atau mendengar melalui alat bantu dengar mereka. Beberapa orang tua melakukan dengan mencontohkannya beberapa kali sampai anak merasa paham.
Leave a Reply