
8 Cara Membangun Hubungan yang Baik antara Orang Tua dan Terapis Anak
Bagaimana agar sesi terapi anak berjalan semestinya? Bagaimana menciptakan hubungan yang baik antara orang tua dan terapisnya?
Sama seperti dengan Audiologis, orang tua yang memiliki anak dengan gangguan dengar juga harus membangun hubungan yang baik dengan para terapis anak-anak mereka. Salah satu hal yang sering terjadi pada orang tua yang memiliki anak dengan gangguan dengar, dibandingkan mereka yang tidak memilikinya adalah, jaringan yang lebih luas.
Ya, orang tua yang memiliki anak dengan gangguan dengar, akan bertemu dengan Audiologis secara rutin, bertemu dengan terapi wicara, terapis mendengar, dokter THT dan sebagainya. Hubungan-hubungan ini, jika dibina dengan baik, maka akan membuahkan sesuatu yang baik untuk anak-anak mereka.
Jika dalam artikel-artikel sebelumnya, telah dibahas tentang bagaimana cara membangun hubungan yang baik antara orang tua dan Audiologis, kali ini akan dibahas bagaimana menciptakan hubungan yang harmonis dengan terapis wicara mereka. Ini dia cara, agar baik orang tua dan terapis bisa bekerja sama dengan baik, baik di lingkungan terapi wicara atau pun di luar dari itu:
8 Cara Membangun Hubungan yang Baik antara Orang Tua dan Terapis Anak
1. Lakukan pekerjaan rumah Anda dengan baik
Setiap terapis mungkin membuat pekerjaan rumah untuk semua orang tua, karena memang terapi yang maksimal tidak hanya bisa didapatkan di tempat terapi. Terapis wicara juga akan mengajak Anda menenggelamkan diri dalam dunia anak Anda, dan Anda diharapkan untuk mau melakukannya dengan baik, untuk hasil yang optimal. Pada umumnya, setiap terapis akan memberitahukan kepada orang tua tentang masalah anak-anak mereka, termasuk edukasi tentang gangguan disabilitas yang mereka alami. Orang tua juga seharusnya proaktif mencari tau apa yang terjadi pada anak mereka. Bagaimana perkembangan mereka, dan apa yang sebaiknya dilakukan di luar jam terapi. Ini menjadi pekerjaan rumah orang tua, dan juga menjadi pekerjaan rumah bagi terapis.
2. Membuat Tujuan dan Membaginya kepada Terapis
Jika Anda tidak tau lokasi yang ingin Anda tuju, bagaimana Anda tau kendaraan apa yang akan Anda naiki, berapa banyak bekal yang akan Anda bawa, dan persiapan apa yang harus Anda lakukan, jika terjadi hambatan di dengah jalan. Terapis, sebagai orang yang memahami keadaan, sebaiknya membantu orang tua dalam membuatkan peta strategi mencapai tujuan. Memandu orang tua mengenal pendekatan-pendekatan terapi yang mungkin bisa membantu untuk mereka mencapai tujuan. Orang tua pun sama, selaku orang yang memiliki harapan, jangan malu untuk menceritakan semua kepada terapi mengenai apa yang Anda harapan dari setiap sesi terpi yang dijalani. Tapi, orang tua juga harus memberitahukan, apa saja tujuan yang sudah tercapai dan apa yang sulit dicapai.
3. Membangun Lingkungan yang Terbuka dan Jujur
Untuk membangun hubungan yang baik, setiap terapis wajib menyampaikan perkembangan yang dicapai anak-anak, tanpa melebihkan atau mengurangi. Berikan informasi yang jujur dan jelas. Jika belum mencapai ekspetasi, berikan alasannya mengapa, dan bagaimana kelanjutannya. Jangan khawatir untuk mengatakan kesulitan yang dihadapi selama sesi terapi dilakukan, atau menyampaikan kepada orang tua bahwa mereka butuh lebih komit pada apa yang telah disepakati di awal. Untuk orang tua, jadilah komentator utama yang bersifat membangun, bukan sekadar mengkritik. Jujurlah jika Anda tidak bisa melakukan sesi terapi di ruamh dengan baik, agar dicari solusinya bersama. Jika Anda tidak mengerti sesuatu, bertanyalah, jangan sungkan. Hindari saling menyalahkan satu sama lain.
Leave a Reply