212016Oct
Gangguan Dengar pada Microtia (Kelainan Bentuk Telinga)

Gangguan Dengar pada Microtia (Kelainan Bentuk Telinga)

Sekitar 1 dari 8000 – 10000 bayi yang lahir mengalami microtia. Dan, gangguan dengar pada microtia merupakan kondisi yang umum terjadi. Apa itu microtia?

Pada beberapa kasus gangguan dengar, selain disebabkan karena paparan suara bising, infeksi telinga atau virus, salah satu penyebabnya juga bisa dikarenakan tidak terbentuknya beberapa organ yang membentuk telinga. Kondisi ini disebut dengan microtia. Microtia merupakan sebuah kondisi untuk menggambarkan tidak terbentuknya pinna, atau telinga bagian luar. Kondisi ini memiliki tingkat keparahan yang berbeda-beda. Gangguan dengar karena microtia juga memiliki derajat yang berbeda.

Microtia ringan biasanya hanya mempengaruhi bentuk dan ukuran telinga saja, misalnya menjadi lebih kecil dari normal. Pada kebanyakan kasus microtia, biasanya pinna benar-benar tidak terbentuk, sekaligus diikuti dengan absennya saluran telinga. Absennya saluran telinga ini disebut juga atresia. Kajadian ini yang sering dikaitkan dengan gangguan dengar.

Biasanya Microtia sendiri memang sering disertai atresia. Hal ini terjadi karena, selama proses pembentukan organ, mereka terbentuk bersama-sama. Beberapa kasus memperlihatkan bahwa saluran telinga terbentuk dari luar, namun di bagian dalamnya tidak sempurna.

Menurut data yang tersaji dalam National Deaf Children Society (NDCS), Microtia lebih sering terjadi pada anak laki-laki, dan hanya terjadi pada satu telinga saja, atau disebut unilateral microtia. Telinga kanan lebih sering mengalami microtia dibandingkan telinga kiri. Saat ini, sekitar 1 dari 8000-10000 bayi yang lahir mengalami kondisi microtia. Dan, 1 dari 10 anak dengan microtia mengalami mikrotia di kedua telinga.

(Baca: Gangguan dengar pada anak dengan congenital CMV)

Penyebab Terjadinya Microtia

Microtia biasanya mulai berkembang sejak anak dalam kandungan, khususnya di semester pertama, dimana sedang terjadi pembentukan organ. Namun, sampai sekarang alasan kenapa hal ini bisa terjadi belum bisa dijelaskan dengan pasti. Terkadang, sang ibu merasa bahwa, mereka telah melakukan sesuatu yang salah saat mengandung, merasa tidak memunuhi gizi, atau bahkan melakukan hal-hal yang berbau mitos, seperti menyakiti hewan, dll. Sayangnya hal ini bukan alasan yang dapat dibuktikan secara ilmiah.

Menurut perkiraan medis sendiri, kondisi ini bisa dipicu karena penggunaan obat-obatan pada trimester pertama kehamilan, adanya faktor genetik atau pengaruh dari lingkungan. Microtia bisa dijadikan satu alasan untuk seorang ibu melakukan pemeriksaan komprehensif pada bayinya, untuk mengetahui ada atau tidaknya kegagalan pembentukan di organ lain selama kehamilan.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *